Selasa, 22 Maret 2011

Kepribadian yang sehat :

1. Mampu menilai diri sendiri secara realisitik; mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
2. Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
3. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
4. Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
5. Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
6. Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak)
7. Berorientasi tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan dan keterampilan.
8. Berorientasi keluar (ekstrovert); bersifat respek, empati terhadap orang lain, memiliki kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain, tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan dirinya.
9. Penerimaan sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
10. Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya.
11. Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh faktor-faktor achievement (prestasi) acceptance (penerimaan), dan affection (kasih sayang)
Kepribadian yang tidak sehat :
1. Mudah marah (tersinggung)
2. Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan
3. Sering merasa tertekan (stress atau depresi)
4. Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang
5. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum
6. Kebiasaan berbohong
7. Hiperaktif
8. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
9. Senang mengkritik/ mencemooh orang lain
10. Sulit tidur
11. Kurang memiliki rasa tanggung jawab
12. Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan faktor yang bersifat organis)
13. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama
14. Pesimis dalam menghadapi kehidupan
15. Kurang bergairah (bermuram durja) dalam menjalani kehidupan

Beberapa Ciri Pribadi Yang Sehat

Aspek penyesuaian diri Ciri perilaku
Sikap terhadap diri sendiri Menunjukkan penerimaan diri; memiliki jati diri yang memadai (positif); memiliki penilaian yang realistik terhadap berbagai kelebihan dan kekurangan.
Persepsi terhadap realitas Memiliki pandangan yang realistik terhadap diri dan terhadap dunia, orang maupun benda di sekelilingannya.
Integrasi Berkepribadian utuh, bebas dari konflik-konflik batin yang melumpuhkan, memiliki toleransi yang baik terhadap stress.
Kompetensi Memiliki kompetensi-kompetensi fisik, intelektual, emosional dan sosial yang memadai untuk mengatasi berbagai problem hidup.
Otonomi Memiliki kemandirian, tanggungjawab dan penentuan diri (self-determination; self-direction) yang memadai disertai kemampuan cukup untuk membebaskan diri dari aneka pengaruh sosial.
Pertumbuhan aktualisasi diri Menunjukkan kecenderungan kearah menjadi semakin matang, semakin berkembang kemampuan-kemampuannya dan mencapai pemenuhan diri sebagai pribadi.

Faktor psikologis dan penyakit fisik
Kategori ini meliputi jenis-jenis gangguan yang disebut gangguan-gangguan psikosomatik, yaitu gangguan-gangguan fisik yang disebabkan oleh faktor-faktor psikologis. Kaitan antara emosi dan kesehatan.
1. Perasaan tidak berdaya (helplessness) memiliki dampak negative terhadap kesehatan seseorang, bahkan dapat berakibat kematian. Konon tidak sedikit orang Yahudi yang ditahan di kamp-kamp konsentrasi Jerman meninggal karena diliputi rasa apatis menghadapi kondisi hidup yang tidak memberikan harapan itu. Gejala ini dikenal dengan istilah “apathy deaths”.
2. Stress yang ditimbulkan oleh berbagai sebab dapat berakibat negative terhadap kesehatan dengan cara menimbulkan penyakit tertentu atau memperburuk penyakit yang sudah di derita.
3. Emosi-emosi yang positif juga berdampak positif terhadap kesehatan. Sebagai contoh, seorang pasien yang percaya bahwa tindakan penyembuhan tertentu akan berhasil atau efektif ternyata memiliki peluang yang lebih besar untuk sembuh dibandingkan pasien yang bersikap netral atau pesimistik, kendati kemudian terbukti bahwa tindakan tersebut sesungguhnya tidak punya efek fisiologis apapun. Gejala ini dikenal sebagai “efek placebo”.
4. Emosi-emosi yang sangat kuat disadari atau tidak, lambat laun dengan sendirinya akan menghasilkan perubahan-perubahan anatomis dan fisiologis tertentu pada sejumlah sistem organ, dan akhirnya menimbulkan gangguan-gangguan. Gejala ini dijelaskan oleh Selye (1976 dalam Coleman, Butcher dan Carson, 1980) sebagai berikut: menghadapi stres yang berkepanjangan individu akan melakukan serangkaian reaksi yang disebut “sindrom adaptasi umum” (general adaptation syndrome). Mula-mula individu bersiaga dan mengerahkan segala sumber daya yang dimilikinya. Kemudian individu melakukan perlawanan hebat terhadap stres yang dialaminya dengan menggunakan semua daya yang sudah disiagakan tersebut. Akhirnya, sumber daya yang dimilikinya terkuras habis. Keadaan ini dapat berakibat pada kematian, sementara stresnya sendiri mungkin belum juga berhasil dihalau.
Ada beberapa bentuk pola simtom psikosomatik klasik, yaitu tukak lambung, anorexia nervosa, migrain, hipertensi, serangan jantung dan sebagainya.
1. Tukak lambung
Tukak lambung adalah luka di lambung. Simtom ini disebabkan oleh keluarnya cairan asam secara berlebihan, sehingga menimbulkan luka pada dinding lambung. Terbukti, emosi-emosi yang negatif seperti kesedihan, agresi, kecemasan, kebencian, dapat merangsang produksi asam lambung (stomach acids) secara berlebihan. Akibatnya, lambung melakukan pencernaan terhadap dirinya sendiri dan timbul luka.
2. Anorexia Nervosa
Anorexia nervosa adalah gangguan makan berupa tidak mau makan atau selalu muntah setiap selesai makan. Akibatnya, badan penderita menjadi sangat kurus dan dalam kasus ekstrem dapat mengakibatkan kematian karena kelaparan atau kegagalan fungsi organ-organ vital tertentu seperti jantung. Gangguan ini lebih sering dialami oleh wanita daripada pria dengan perbandingan mencapai angka 20 lawan 1. Artis penyanyi kondang asal Amerika Serikat Karen Carpenter konon tewas akibat gangguan ini.
Beberapa ciri gangguan ini antara lain sebagai berikut: penderita biasanya berasal dari klas sosial menengah-atas; lebih sering menimpa kaum remaja atau kaum dewasa muda. Penderita biasanya memiliki riwayat kebiasaan makan yang susah atau tidak teratur. Penderita memiliki pandangan yang cenderung negative tentang tubuhnya, misalnya merasa terlalu gemuk, serta memiliki sifat-sifat terlalu perasa, tertgantung, introvert, mudah cemas, perfeksionistik, mementingkan diri, dan berwatak keras. Penderita menjadi kehilangan gairah seksual dan pada penderita wanita juga disertai dengan berhentinya menstruasi. Berkaitan dengan sifat perfeksionistiknya, penderita cenderung sangat memperhatikan hal-hal kecil.
Gangguan ini dapat berawal dari usaha melakukan diet untuk mengurangi berat badan. Selain itu, penderita bisanya mengalami konflik batin antara hasrat untuk mandiri dan perasaan takut bila sungguh-sungguh mendapatkan peran dan status sebagai orang dewasa yang otonom. Maka, untuk menolongnya, konflik ini harus terlebih dulu dipecahkan.
3. Migrain dan pusing karena tegang (tension-headances)
Sebagian besar keluhan pusing-pusing berkaitan dengan ketegangan emosi. Karena kaum perempuan umumnya lebih emosional dibandingkan kaum lelaki, maka ganguan ini pun lebih lazim ditemukan pada kaum perempuan daripada lelaki.
a. Migrain
Migrain adalah gejala pusing kepala sangat nyeri yang menyerang penderita berulang-ulang secara periodic. Kadang-kadang gejala ini dirasakan hanya disalah satu belahan kepala atau otak, kadang-kadang menyerang seluruh kepala, dan kadang-kadang berpindah-pindah dari belahan kepala yang satu ke belahan lainnya. Simtom ini lebih sering dialami kaum perempuan daripada kaum lelaki, dengan perbandingan 4 lawan 1. Penyebabnya adalah pembesaran pembuluh darah dalam otak akibat ketegangan emosi. Simtom ini relatif sulit disembuhkan dibandingkan simtom nyeri kepala lainnya.
b. Pusing karena tegang biasa (simple tension headaches)
Stres atau ketegangan emosi mengakibatkan kontraksi otot-otot disekeliling tengkorak. Kontraksi otot ini selanjutnya mengakibatkan penyempitan pembuluh darah disekeliling tengkorak dan menimbulkan pusing-pusing.
4. Hipertensi
Stres juga mengakibatkan penyempitan pembuluh darah pada organ-organ dalam. Akibatnya, darah dialirkan dalam jumlah yang lebih besar ke otot-otot tubuh, tangan dan kaki, sehingga bagian-bagian itu terasa tegang. Namun yang lebih serius, penyempitan pembuluh darah pada organ-organ dalam tersebut menyebabkan jantung bekerja keras, berdetak lebih cepat. Akibatnya, tekanan darah meningkat. Semua gejala ini akan hilang bilamana stres yang menjadi penyebabnya juga hilang. Bila stres tersebut berlangsung berkepanjangan, maka tekanan darah tinggi pun menjadi kronik. Timbullah hipertensi. Hipertensi menimbulkan resiko beberapa penyakit, seperti gagal ginjal, kebutaan dan sejumlah penyakit fisik lain. Sayangnya, tidak terdapat simtom-simtom yang menandai akan munculnya hipertensi. Selain itu terdapat jenis hipertensi yang dapat muncul tanpa penyebab fisik sebagaimana ditimbulkan oleh stres di atas. Gangguan ini disebut hipertensi esensial.
5. Serangan jantung
Gangguan ini memiliki ciri sebagai berikut: sangat sering didahului dengan hipertensi; berkorelasi dengan pengalaman-pengalaman hidup yang menimbulkan stress, seperti kerja berat, kecemasan, depresi, kesepian, perceraian; berkorelasi dengan tipe kepribadian tertentu, khususnya yang disebut keperibadian Tipe A. Sehubungan dengan kaitan antara kepribadian dan ganguan psikofisiologis, Friedman dan Rosenman (1974, dalam Mears dan Gatchel, 1979) membedakan dua tipe kepribadian, yakni kepribadian Tipe A dan Tipe B. Kepribadian Tipe A memiliki ciri-ciri: agresif; memiliki dorongan untuk berprestasi yang tinggi, serba cepat dalam melakukan apa saja, termasuk makan, bicara, berjalan dan sebagainya; mudah frustrasi dan tidak sabaran; cepat gusar; dan merasa bersalah kalau tidak melakukan sesuatu. menurut Friedman dan Rosenman, kepribadian tipe A ini lebih mudah terserang hipertensi dan gangugan-gangguan kardiosvaskular lainnya dibandingkan kepribadian Tipe B yang memiliki cirri-ciri kebalikan dari kepribadian A.


Hubungan kesehatan mental dengan kesehatan fisik.
Antara mental dan fisik mempunyai hubungan yang sangat erat tetapi seberapa jauh eratnya memang belum dapat diketahui secara pasti. Contoh: fisik yang sedang menderita sakit, mental dalam menghadapi problema berbeda dengan pada waktu fisiknya sehat, yaitu antara lain mudah tersinggung. Demikian pula fisik yang sedang sakit, tetapi sikap mentalnya selalu optimis penuh harapan sembuh, maka deritanya sakit akan lebih ringan dan lekas sembuh. Sedang bagi mereka yang pesimis lebih sulit/lama disembuhkan. Misalnya takut mati, takut penyakitnya menjadi parah. Maka tepatlah kiranya bahwa pasien diberikan penjelasan mengenai penyakitnya serta bahayanya agar yang bersangkutan menyadari dan optimis.

Konsep Sehat

Terwujudnya keadaan sehat adalah kehendak semua pihak, tidak hanya oleh perorangan, tetapi juga oleh kelompok dan bahkan oleh masyarakat. Defenisi sehat, antara lain:
Sehat adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dengan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya (Perkin, 1938)
Sehat adalah suatu keadaan sejahtera sempurna fisik, mental dan sosial yang tidak hanya terbatas pada bebas dari penyakit atau kelemahan saja (WHO, 1947 dan UU Pokok Kesehatan No.9 tahun 1960)
Sehat adalah suatu keadaan dan kualitas organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dipunyainya (WHO, (1957).
Sehat adalah keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa oleh ahlinya tidak mempunyai keluhan atau tidak terdapat tanda-tanda penyakit atau kelainan (White, 1977)
Sehat adalah suatu keadaan sejahtera badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonami (UU Kesehatan No. 23 tahun 1992)
Menurut H. L. Bloem (1974), status kesehatan dipengaruhi oleh faktor biologik, faktor perilaku, faktor lingkungan dan faktor pelayanan kesehatan. Faktor biologik merupakan faktor yang berasal dari individu yang bersangkutan dan disebut juga faktor keturunan. Faktor keturunan ini, misalnya pada penyakit alergi, kelainan jiwa, dan beberapa jenis penyakit kelainan darah.

Konsep Bloem

Di samping defenisi sehat, dikenal pula istilah penyakit. Pengertian penyakit diantaranya :
Penyakit adalah kegagalan mekanisme adaptasi suatu organism untuk bereaksi secara tepat terhadap rangsangan atau tekanan sehingga timbullah gangguan pada fungsi atau struktur dari bagian, organ atau sistem tubuh (Gold Medical-Dictionary).
Penyakit adalah suatu keadaan di mana proses kehidupan tidak lagi teratur atau terganggu perjalanannya (Van Dale’s Groot Woordenboek der Nederlandese Tall)
Penyakit bukan hanya merupakan kelainan yang hanya dapat dilihat dari luar, tetapi juga suatu gangguan keteraturan fungsi-fungsi dalam tubuh (Arrest Hof te Amsterdam).
Dari batasan seperti ini dapat disimpulkan bahwa penyakit adalah suatu keadaan dimana terdapat ganguan terhadap bentuk dan fungsi tubuh sehingga berada dalam keadaan yang tidak normal. Pengertian penyakit tidak sama dengan rasa sakit. Penyakit adalah suatu keadaan yang bersifat objektif, sedangkan rasa sakit adalah yang bersifat subjektif. Seseorang yang menderita penyakit belum tentu merasa sakit. Sebaliknya, tidak jarang ditemukan seseorang yang selalu mengeluh sakit padahal tidak ditemukan penyakit apapun pada dirinya.
Menurut Gordon dan Le Richt pada tahun 1950, timbul atau tidaknya penyakit pada manusia dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu:
1. Pejamu (host), yaitu semua faktor yang terdapat dalam diri manusia yang dapat mempengaruhi timbulnya serta perjalanan suatu penyakit. Faktor tersebut antara lain faktor keturunan, mekanisme pertahanan tubuh, umur, jenis kelamin, ras, status perkawinan, pekerjaan dan kebiasaan hidup.
2. Bibit penyakit (agent), ialah suatu substansi atau elemen tertentu yang kehadiran atau ketidakhadirannya dapat menimbulkan atau mempengaruhi perjalanan suatu penyakit. Substansi dan elemen yang dimaksud banyak macamnya, yang secara sederhana dapat dikelompokkan dalam lima macam, yaitu:
a. Golongan nutrient, yaitu zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh untuk melangsungkan fungsi kehidupan. Jika seseorang mengalami kekurangan atau kelebihan zat gizi ini akan timbul penyakit tertentu.
b. Golongan kimia, adalah berbagai zat kimia yang ditemukan di alam (exogenous chemical substance) dan atau zat kimia yang dihasilkan tubuh (endogenous chemical substance). Apabila tubuh terkena dan atau kemasukan zat kimia tertentu seperti logam berat, gas beracun, atau debu akan menimbulkkan beberapa penyakit tertentu.
c. Golongan fisik, seperti suhu yang terlalu tinggi atau rendah, suara yang terlalu bising, kelembaban udara, tekanan udara, radiasi atau trauma mekanis, dapat menimbulkan berbagai macam penyakit.
d. Golongan mekanik juga sering digolongkan ke dalam golongan fisik, namun pada golonan ini unsur campur tangan manusia lebih banyak ditemukan, seperti kecelakaan di jalan raya, pukulan dan lain-lain.
e. Golongan biologik yang bisa berupa jasad renik/mikroorganisme maupun bukan jasad renik yang dapat berasal dari tumbuhan (flora) atau hewan (fauna).
Empat golongan yang pertama sering disederhanakan sebagai golongan abiotik, sedangkan golongan yang terakhir sering disebut biotik. Jika penyebab penyakit tergolong dalam kelompok biotik, maka penyakit yang ditimbulkannya disebut penyakit infeksi yang dapat bersifat menular maupun tidak menular. Berat ringannya penyakit infeksi yang dialami amat ditentukan oleh patogenisitas, virulensi, antigenitas dan infektivitas. Patogenisitas ialah kemampuan bibit penyakit menimbulkan reaksi pada pejamu sehingga timbul penyakit. Virulensi adalah ukuran keganasan atau derajat kerusakan yang ditimbulkan oleh bibit penyakit. Antigenisitas ialah kemampuan bibit penyakit merangsang timbulnya mekanisme pertahan tubuh. Infeksivitas adalah kemampuan bibit penyakit mengadakan invasi dan menyesuaikan diri, bertempat tinggal, serta berkembang biak dalam diri pejamu.
3. Lingkungan (environment), yaitu agregat dari seluruh kondisi dan pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan suatu organisasi. Salah satu peran lingkungan adalah sebagai reservoir. Secara umum lingkungan dibedakan atas lingkungan fisik dan lingkungan nonfisik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alamiah yang terdapat disekitar manusia, sedangkan lingkungan nonfisik ialah lingkungan yang muncul akibat adanya interaksi antar manusia.
Hubungan antara pejamu, bibit penyakit dan lingkungan dalam menimbulkan penyakit sangat kompleks dan majemuk. Seseorang disebut berada dalam keadaan sehat, jika tuas pejamu berada dalam keadaan seimbang dengan tuas bibit penyakit. Sebaliknya bila bibit penyakit lebih berhasil menarik keuntungan dari lingkungan, maka orang tersebut berada dalam keadaan sakit.
Dalam proses timbulnya penyakit, unsur-unsur yang terdapat pada setiap faktor memegang peran yang amat penting. Pengaruh unsur tersebut adalah sebagai penyebab timbulnya penyakit yang dalam kenyataan sehari-hari tidak hanya berasal dari satu unsur saja, melainkan dapat sekaligus dari beberapa unsur. Karena adanya pengaruh dari beberapa unsur inilah, maka sering dikatakan penyebab timbulnya suatu penyakit tidak bersifat tunggal melainkan bersifat majemuk, yang dikenal dengan istilah multiple causation of desease. Selanjutnya dalam menimbulkan penyakit, unsur-unsur tersebut berperan tidak secara sendiri-sendiri, melainkan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya.
Jika ditinjau dari proses yang terjadi pada orang sehat, menderita penyakit, dan terhentinya penyakit, yang dikenal dengan nama riwayat alamiah perjalanan penyakit (natural history of desease), terutama untuk penyakit infeksi, terlihat bahwa proses yang ditemukan secara umum dapat dibedakan atas lima tahap, yakni:
1. Tahap prepatogenesis, dimana telah terjadi interaksi antara pejamu dengan bibit penyakit, tetapi interaksi ini masih berada di luar tubuh, dalam arti bibit penyakit belum masuk ke dalam tubuh pejamu. Seseorang yang ada dalam keadaan seperti ini disebut sehat.
2. Tahap inkubasi, jika bibit penyakit telah masuk ke dalam tubuh pejamu, tetapi gejala penyakit belum tampak, masa inkubasi setiap penyakit berbeda-beda. Jika daya tahan tubuh tidak kuat, penyakit akan berjalan terus dan mengakibatkan terjadinya gangguan pada bentuk dan fungsi tubuh. Pada suatu saat penyakit akan bertambah hebat, sehingga timbul gejalanya. Garis yang membatasi tampak atau tidak tampaknya gejala penyakit disebut horizon klinik.
3. Tahap penyakit dini, dihitung mulai dari munculnya gejala penyakit. Pada tahap ini sekalipun pejamu telah jatuh sakit, tetapi sifatnya masih ringan. Umumnya pasien masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari dan karena itu sering tidak datang berobat. Selanjutnya bagi yang datang berobat, umumnya tidak memerlukan perawatan karena penyakit masih bisa diatasi dengan berobat jalan.
4. Tahap penyakit lanjut, bila penyakit bertambah hebat. Pada tahap ini pasien tidak dapat lagi melakukan pekerjaan dan jika datang berobat, umumnya telah memerlukan perawatan.
5. Tahap akhir penyakit. Berakhirnya perjalanan suatu penyakit dapat berada dalam lima keadaan, yaitu sembuh sempurna, sembuh dengan cacat, karier, kronik atau meninggal dunia.
Untuk mencegah berjalannya penyakit ke tahap yang lebih lanjut, diperlukan pelayanan kesehatan yang menyeluruh, yaitu pelayanan kesehatan yang meliputi usaha-usaha seperti berikut ini:
1. Pendekatan holistik yang melaksanakan pelayanan kesehatan untuk semua aspek kehidupan pasien yang meliputi jasmani, mental dan sosial.
2. Melihat faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap penyakitnya, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan fisik, dan lingkungan sosial.
3. Memberikan pelayanan berdasarkan 5 tingkat pencegahan penyakit (five level of prevention) dari Leavell & Clark, 1953 sesuai dengan pemanfaatannya, yaitu:
a. Promosi kesehatan (health promotion). Pada tingkat ini dilakukan tindakan umum untuk menjaga keseimbangan proses bibit penyakit-pejamu-lingkungan, sehingga menguntungkan manusia dengan cara meningkatkan daya tahan manusia dan memperbaiki lingkungan. Tindakan ini dilakukan pada seseorang yang sehat. Contoh: penyuluhan cara hidup sehat, kesehatan olah raga.
b. Perlindungan khusus (special protection), yaitu tindakan yang masih dimaksudkan untuk mencegah penyakit, menghentikan proses interaksi bibit penyakit-pejamu-lingkungan dalam tahap prepatogenesis, tetapi sudah terarah pada penyakit tertentu. Tindakan ini dilakukan pada seseorang yang sehat tetapi memiliki resiko terkena penyakit tertentu. Contoh: imunisasi, keluarga berencana.
c. Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment), merupakan tindakan menemukan penyakit sedini mungkin dan melakukan penatalaksanaan segera dengan terapi yang tepat.
d. Pembatasan cacat (disability limitation), dimana dilakukan penatalaksaan terapi yang adekuat pada pasien penyakit yang telah lanjut untuk mencegah penyakit menjadi berat, menyembuhkan pasien dan mengurangi kemungkinan cacat yang akan timbul.
e. Rehabilitasi (rehabilitation). Tindakan ini dimaksudkan untuk mengembalikan pasien ke masyarakat agar ia dapat hidup dan bekerja secara wajar, atau agar tidak menjadi beban bagi orang lain.
4. Pelayanan rujukan.

Minggu, 20 Maret 2011

kepribadian dilihat dari warna

Hitam

Anda yang menyukai warna hitam cenderung punya pemikiran yang konservatif. Anda sangat tahu apa kelebihan diri Anda. Warna hitam juga cenderung membuat Anda ingin tampil seksi dan percaya diri.

Pink

Warna ini cenderung dikenal sebagai warna feminin. Namun di balik girly image-nya, sebenarnya warna ini menyembunyikan kepribadian Anda yang misterius. Jadi, tak benar jika seseorang yang menyukai warna pink adalah sosok yang sangat girly, bisa jadi ia pandai memainkan gayanya.

Merah

Anda cerdas, berani dan vokal! Anda sangat suka berada di tengah banyak orang dan menjadi pusat perhatian. Anda suka berpetualang dan tak suka ditentang.

Biru

Seperti kesan yang didapat dari kejernihan warnanya, Anda yang menyukai warna biru adalah sosok penyayang dan berjiwa bebas. Anda percaya bahwa kecantikan dari dalam dirilah yang membuat Anda cantik seutuhnya.

Orange

Warna ini menunjukkan Anda adalah orang yang tulus, menikmati tantangan dan hal-hal baru. Anda juga punya ambisi besar serta senang menjadi pusat perhatian.

Kuning

Jika Anda suka warna kuning, maka Anda adalah orang yang optimis. Suka akan tantangan dan kegiatan di luar ruangan, terutama olahraga. Anda adalah orang yang fleksibel dan punya intuisi yang kuat.

Putih

Warna putih ini dikatakan sebagai warna netral, dan demikian pula dengan Anda yang memfavoritkan warna satu ini. Anda cenderung pecinta damai dan tak suka memihak. Anda juga termasuk orang yang tenang dan mudah berteman dengan siapa saja.

Hijau

Jika Anda pecinta hijau, maka tak salah lagi, Anda adalah sosok pecinta lingkungan. Sekalipun mungkin Anda bukan orang yang terjun di dalam organisasi pecinta lingkungan, namun Anda berusaha menjaga lingkungan sekitar Anda. Anda juga sosok yang keras kepala, namun sekaligus teman yang menyenangkan.